ILMU YANG MENANTI HAKNYA


Suatu saat sepulang shalat berjamaah di Masjid, ada suara salam menyapa saya dari seorang pemuda yang saya ingat ikut berjamaah di Masjid yang sama dengan saya. “Assalamualaikum”, sebuah kata yang saat itu mungkin saya anggap aneh, tidak biasa.

Pertama karena saya merasa tidak mengenal pemuda itu. Kedua, karena pemuda tadi mengucapkan salam sesaat sebelum ia berlalu dengan motornya meninggalkan saya yang berjalan kaki. Biasanya, orang-orang yang dikenal sekalipun, akan berlalu begitu saja dalam keadaan seperti itu. Kalau toh menyapa, mungkin hanya teguran basa-basi biasa, bukan salam. Ketiga, karena saya ingat ini bukan kali pertama dia bersikap seramah dan semenyenangkan itu kepada saya, orang yang tidak dikenalnya. Sebelumnya di masjid yang sama, dia menyalami saya dengan senyum yang (menurut saya) tulus, tak lupa dengan salam bernada riangnya. Jadi, mungkin bisa disimpulkan bahwa apa yang ia lakukan bukan kebetulan, tapi kebiasaan.

Kemudian saya mencoba menebak-nebak. Kenapa orang itu begitu ramah kepada saya yang notabenenya adalah orang yang tidak dikenalnya? Kenapa pula salam mudah sekali meluncur dari wajah cerianya itu? Oh, mungkin saja dia sedang mempraktekkan apa yang diajarkan Nabi Muhammad saw. untuk selalu menebarkan salam dan berwajah ceria dan menyenangkan kepada siapa saja, terutama kepada saudara sesama muslim.

Wah hebat benar dia, bisa benar-benar mempraktekkan ajaran Nabi dengan begitu baiknya, pikir saya. Mungkin malah yang terbaik yang pernah saya jumpai dalam hal menebarkan salam dan bertingkah laku menyenangkan.

Kemudian saya teringat pada diri saya sendiri. Betapa selama ini saya telah banyak mengetahui tentang ajaran Islam yang mengajarkan ini dan itu, saya telah membaca banyak buku yang menasihatkan untuk begini dan begitu, saya banyak mengetahui tentang teori A, B, dan C, tapi amalan yang saya lakukan, perbuatan nyata yang saya kerjakan sebagai tindak lanjut dari teori yang sudah saya pahami, dari ilmu agama yang telah saya ketahui, bisa dibilang sangat sedikit, atau bahkan hampir tidak ada.

Yah, saya baru benar-benar tersadar. Ternyata selama ini saya cuma pandai berteori, cuma getol membaca buku, hanya senang mendengarkan ceramah dan kajian, tanpa diikuti dengan tindakan dan amalan nyata. Parahnya, saya juga sering mengumbar teori itu kesana-kemari, menasihati si A dan si B bahwa kamu seharusnya begini dan begitu, padahal saya sendiri juga belum tentu mengamalkannya. Astaghfirullah…

Teringat saya pada salah satu ayat Al Quran:

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu laksanakan? Sangat besar dosanya di sisi Allah jika kamu mengucapkan sesuatu yang tidak kamu lakukan.” (Ash Shaff : 2-3)

Yah ternyata teori itu sangat berbeda dengan amalan. Orang boleh saja mengetahui teori kebaikan yang banyak sekali. Namun, semua itu takkan pernah berarti apa-apa jika ia tidak pernah mau mengamalkannya. Ia akan tetap berada dalam kedudukan yang sama dengan orang yang tidak mengetahui teori-teori yang ia ketahui. Yah, yang membedakan adalah tindakan nyata, amalan-amalan konkrit, bukan sekadar teori-teori kosong.

Pemuda dengan salam cerianya tadi telah memberi bukti, lebih baik mengerti dan memahami tentang ilmu yang diangggap kecil oleh kebanyakan orang tetapi ditindaklanjuti dengan amalan nyata. Daripada mengilmui sebanyak buku ensiklopedi tapi amalannya tak berisi. Mungkin hampir tidak ada seorang muslim yang tidak mengetahui tentang teladan dan ajaran nabi untuk menebarkan salam, untuk berwajah manis berhias senyum kepada sesama, untuk bertingkah laku menyenangkan kepada saudara kita. Namun, yang benar-benar mengamalkannya sangat tidak sebanding dengan jumlah yang mengetahuinya.

Yah, pemuda dengan salam cerianya telah menyadarkan saya, betapa banyak ilmu yang tidak saya tindaklanjuti dengan amalan nyata, betapa banyak teori menggantung di pikiran dan membusuk tanpa sempat ia disegarkan lagi lewat tindakan konkrit.

Tapi hanya tersadar pun tidak akan berarti apa-apa jika tidak diikuti dengan tindakan nyata yang bernama perbaikan. Dan tidak akan pernah berarti apa-apa jika setelah saya menulis tulisan ini, dan setelah Anda membaca tulisan ini, kemudian kita tetap berkubang dalam teori-teori yang membusuk dimakan waktu karena haknya untuk diubah menjadi amalan nyata kita buang jauh ke negeri antah berantah.

NB : tulisan ini hanya sekadar teori, yang menanti haknya untuk kita metamorfosiskan menjadi kupu-kupu amalan nyata, agar tak hanya menjadi ulat-ulat membusuk yang menjijikkan.

0 komentar:

Posting Komentar