KESEDERHANAAN ITU MEMUKAU




Selepas Maghrib di sebuah Masjid kecil di salah satu desa di pelosok Pacitan, saya menemukan seorang kakek dengan tubuhnya yang kecil, kurus, dan bungkuk sedang membaca Al Quran. Penglihatannya yang semakin kabur dimakan usia membuatnya harus semakin membungkuk sangat dekat dengan tulisan dalam kertas mushaf Al Quran agar dapat melihat dengan lebih jelas. Beliau membaca halaman yang sudah berwarna kuning itu dengan suara keras namun terbata-bata.

Suaranya yang parau dan bergetar dengan pelafalan huruf yang masih kurang benar memang sama sekali jauh dari merdu dan enak didengar. Tapi entah mengapa saya terpesona. Selama setidaknya satu menit saya terbengong berdiri di belakangnya, menatap tubuh rentanya dengan pandangan yang entah harus saya definisikan bagaimana.

Di sebelah kakek itu terdapat sebuah senter kecil yang ia pergunakan sebagai penerang jalan dari rumahnya menuju Masjid. Di daerah itu, ketika malam memang sangat sepi. Penerangan pun sangat minim sehingga senter menjadi alat wajib jika ingin berjalan malam hari. Ditambah kontur tanah yang terjal berbatu dan udara dingin yang cukup menggigit sebenarnya lebih dari cukup untuk kakek serenta itu memutuskan mengalah pada rasa malas dan mengurungkan diri pergi ke masjid. Tapi tidak, kakek ini tetap berangkat ke Masjid yang sepi itu dan selepas Maghrib ia tetap tinggal untuk tadarus Al Quran sambil menunggu Isya tiba. Masya Allah… 

Di banyak kesempatan lain, saya pun dibuat terpesona oleh berbagai macam orang yang mungkin dianggap remeh oleh kebanyakan kita. Ada seorang bapak tunanetra yang rutin setiap pagi mengepel teras Mushala Puskesmas tempat saya bekerja. Dengan keterbatasan yang Ia miliki, Ia masih tergerak untuk berbuat sesuatu, membersihkan Rumah Tuhan. Hal yang sangat luar biasa. Dan Ia tampak sangat menikmati pekerjaannya itu, membuat saya selalu tersenyum ketika melihatnya.

Pernah pula saya menyaksikan seorang tunanetra yang berjalan kaki dengan bantuan tongkatnya menyusuri padatnya Jalan Kaliurang Yogyakarta sambil memanggul tumpukan keset yang Ia jual dengan berkeliling. Merinding ketika saya melihatnya dari atas motor.

Di dekat obyek wisata Candi Cetho di Karanganyar, sempat saya jumpai seorang nenek yang memanggul tumpukan besar rumput untuk ternaknya sampai terbungkuk-bungkuk karena saking beratnya. Jalan mendaki yang Ia lalui membuat pekerjaan itu semakin melelahkan baginya.

Ada pula seorang kakek jompo yang berjualan mainan kincir angin dari karton khas prakarya anak SD di tempat wisata Benteng Van Der Wijk, Gombong. Kincir angin yang warnanya memudar dan berdebu itu jelas tak mungkin menarik perhatian anak-anak zaman sekarang. Kemungkinan jualannya laku sangat kecil. Mungkin beliau tahu itu, tapi toh beliau tetap berjualan, tetap berikhtiar. Ia hanya tahu kewajibannya adalah bekerja, dan soal rezeki biar Allah yang memberikannya dari jalan yang tak disangka-sangka.

Salah satunya lewat ibu saya yang karena kasihan membeli satu kincir angin dengan harga berlipat-lipat dari yang diminta kakek penjual itu. Tapi itu sungguh tak sebanding dengan pelajaran hidup yang beliau ajarkan kepada saya sekeluarga waktu itu, membuat saya memainkan kincir angin itu dengan mata berkaca-kaca.

Masih banyak lagi sebenarnya sosok memesona lainnya yang sempat saya temui. Namun yang saya sebut di atas setidaknya cukup mewakili. Dan saya selalu terpukau melihat orang-orang seperti mereka. Saya akan berlama-lama menatap mereka sambil menikmati desir-desir halus yang muncul di hati kala memandangnya. Atau jika memungkinkan saya akan berusaha berbincang dengan mereka. Memberi sesuatu jika saya mampu atau setidaknya dalam hati merapal doa-doa untuk mereka sebanyak mungkin.

Ada kedamaian yang menyusup di dada. Berbagai jenis perasaan turut memenuhi hati saya kala memandang mereka. Trenyuh, haru, sedih, kasihan, malu dengan diri sendiri, bersyukur atas nikmat diri, dan sebagainya. Tapi entah mengapa yang dominan di pikiran saya adalah rasa cemburu. Yah, CEMBURU. Dalam pengertian yang positif tentunya.

Entah mengapa dalam pandangan saya mereka begitu dekat dengan Tuhannya, dekat dengan surga. Mereka memang bukan siapa-siapa. Mereka juga tidak melakukan sesuatu yang hebat dan besar. Tapi justru karena sederhana itulah mereka memukau. Dan justru karena mereka bukan siapa-siapa itulah yang membuat mereka memesona.

Mereka hanya bekerja sekuat yang mereka bisa, memenuhi kewajiban dari Tuhan untuk mencari nafkah bagi keluarga di rumah. Mereka hanya berusaha melawan keterbatasan yang mereka miliki untuk beribadah kepada Tuhan. Walau payah, meski susah, mereka tak pernah kalah oleh lelah. Mereka berangkat dengan keyakinan penuh pada Tuhannya dan pulang kembali ke rumah untuk mensyukuri seberapapun dan apapun yang mereka dapat hari itu. Sesederhana itu. Begitu jujur dan tulus, tanpa ambisi dan dusta. Hidup mereka adalah bentuk pengabdian utuh kepada Tuhannya.

Cemburu rasanya melihat mereka. Begitu damai, begitu tenang. Sementara saya masih sering dipusingkan dengan urusan duniawi yang melenakan dari mengingat Tuhan. Mereka mungkin telah jauh mendahului saya masuk surga, sementara saya masih tertatih untuk menghindari neraka.

Saya mungkin telah mengenyam pendidikan tinggi di kampus negeri bergengsi, memiliki profesi dan gelar mentereng, memiliki kedudukan yang baik di masyarakat dan diberi kecukupan materi. Namun bisa jadi di sisi Tuhan saya tak lebih baik dari mereka yang bahkan SD saja mungkin tidak tamat, yang bahkan untuk makan tiga kali sehari saja mungkin masih susah.

Melihat mereka, membuat saya tertampar dan terpaksa kembali berkaca melihat ke dalam diri sendiri. Sudahkah saya menjadikan kerja sebagai bagian dari ibadah saya kepada Tuhan? Apakah pekerjaan saya memiliki trayek yang sama dengan jalur menuju surga? Sudah luruskah niat dan orientasi saya dalam hidup ini, ataukah masih pekat ia dengan ambisi duniawi? Masih sadarkah bahwa dunia hanya sementara dan ada pertanggungjawaban di akhirat sana? Astaghfirullah…

Memandang mereka membuat saya memahami bahwa hidup sebenarnya sangat sederhana. Sesederhana embun pagi yang disambut dengan nafas bakti pada Ilahi. Sesederhana senja yang dijemput dengan syukur tanpa jeda kepada-Nya. Sesederhana malam yang ditutup dengan senyuman kemenangan menuju Tuhan.

Ya, sesederhana itu…


Pacitan, 30 Juni 2012

BIARKAN CINTA MEMILIH SENDIRI DEFINISINYA


Cinta telah menjadi topik yang sangat akrab untuk kehidupan kemanusiaan kita, terutama masa-masa muda kita. Bahkan hampir semua episode hidup kita, pada setiap aktifitasnya, selalu ada bahasan tentang cinta. Namun yang menyedihkan di sini adalah pemaknaan cinta sebagian besar kita adalah sebuah pemaknaan yang salah. Sekarang cinta sering sekali diejawantahkan lewat perilaku jahiliah yang berlumpur dosa. Cinta dipaksakan memakai definisi yang belepotan hawa nafsu, yang membuatnya melenceng jauh dari makna sejatinya. Cinta dipaksakan menjadi alasan pembenaran terhadap banyak sekali kemaksiatan.

Cinta kemudian ditampilkan dalam aktifitas-aktifitas penuh dosa, semacam pacaran, perayaan valentine, pergaulan bebas, bahkan bunuh diri karena cinta, dan pembunuhan serta kekerasan dengan alasan percintaan. Cinta kemudian diungkapkan lewat kata-kata yang seolah manis dan romantis tetapi sesungguhnya menyebarkan bau busuk kesyirikan dan kebodohan. Begitu mudahnya mengatakan “kamu adalah segalanya bagiku”, “demi cintaku kepadamu tidak ada lagi yang kutakuti”, “aku akan senantiasa memujamu”, “if loving you is wrong, I don’t wanna be right”, dan beribu macam kata-kata gombal lainnya, yang pada akhirnya mengarah pada mempertuhankan cinta.

Keadaan di atas pada dasarnya tumbuh karena pemahaman kita yang salah mengenai makna cinta. Karena itu, adalah suatu hal yang penting bagi kita untuk menata ulang pemahaman akan makna cinta yang sesungguhnya. Biarkanlah para pujangga, penyair, dan sastrawan berebut membahasakan cinta, mencari arti, memberi definisi, dan menggali maknanya, tapi cinta sejati akan senantiasa memilih sendiri definisinya, sesuai dengan kemauan Penciptanya, Sang Maha Cinta. Selalu dan selalu.

Cinta pada hakikatnya, harus senantiasa berjalan pada koridor yang sesuai dengan syariat Islam. Dan cinta pun pada akhirnya harus senantiasa tertuju pada Sang Pencipta Cinta, Allah SWT. Karena cinta yang sejati dan abadi hanyalah cinta kepada dan karena Sang Khalik. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Ibnul Qayim Al Jauziyah bahwasanya cinta akan lenyap dengan lenyapnya sebab. Kaidah ini mengajarkan bahwa sebab adalah nyawa bagi cinta. Jadi, cinta yang abadi memerlukan sebab yang abadi pula. Dan tidak ada satu pun yang abadi selain Allah SWT.

Karena itu, setiap kita menyebut cinta, di situ pula Allah selalu ikut serta di dalamnya. Kepada siapapun atau kepada apapun cinta kita, selalu harus berujung dalam naungan cinta kepada Allah. Kaidah-kaidah yang telah Allah ciptakan selalu senantiasa menjadi panduan dan koridor bagi jalannya cinta. Alasan kita mencintai pun harus karena Allah. Wajib dan tanpa kompromi! Maka bukanlah disebut cinta jika Allah tidak ikut serta di dalam semangat cintanya, apalagi jika aktifitas mencintai itu bertentangan dengan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan Allah lewat kitab dan rasul-Nya.

Anis Matta dalam bukunya Serial Cinta mengatakan: Kalau cinta berawal dan berakhir karena Allah, maka cinta yang lain hanya upaya menunjukkan cinta pada-Nya, pengejawantahan ibadah yang paling hakiki. Selamanya memberi yang bisa kita berikan, selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai.

Yah, cinta kita kepada ayah, ibu, saudara, teman, fakir miskin, anak yatim, orang teraniaya, hanyalah upaya pembuktian untuk menunjukkan cinta hakiki kita kepada Allah. Karena Allah memerintahkan kita mencintai mereka. Dan pembuktian cinta kepada Allah adalah ketaatan kepada syariat-syariat-Nya. Di sinilah esensinya.

Maka sudah sepatutnyalah kita mengoreksi diri kita sendiri, sudah sejalankah pemaknaan cinta kita selama ini dengan hakikat cinta sesungguhnya, sesuaikah dengan ajaran Islam sebagai tatanan yang ditetapkan Allah. Ataukah ternyata apa yang selama ini kita sebut cinta ternyata paradoks dengan sejatinya makna cinta, bertentangan dengan kehendak Allah. Berhati-hatilah dengan cintamu! Karena Rasulullah telah bersabda bahwa seseorang akan bersama dengan yang dicintainya di akhirat nanti. Tentu kita ingin bersama dengan Allah dan Rasul-Nya di Jannah nanti kan? Maka cintailah Allah dan Rasul-Nya melebihi cinta kita kepada siapapun dan apapun. Tidak ada lagi alasan untuk mencari cinta yang lain, kecuali jika ingin merasakan oven raksasa bernama neraka.

Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya!" Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (Q.S At taubah :24).

Maka sekarang adalah saatnya untuk berubah. Jangan lagi kita membiarkan cinta-cinta imitasi mengakrabi kehidupan kita. Jangan sampai di penghujung kesadaran kita, saat kita menyadari betapa kita telah jauh melenceng dalam memaknai cinta, dan betapa buruk akibat yang kita alami karenanya, kita bergumam menyesali diri, layaknya Pat Kai dalam serial Kera Sakti: ”Sejak dulu beginilah cinta, deritanya tiada akhir” Na’udzubillah min dzalik.

Maka marilah sekarang kita sambut kedatangan cinta hakiki itu, cinta kepada dan karena Allah. Lalu biarkanlah ia menyelimutimu mesra dengan pelukan hangat kesejatian cinta. Kemudian biarkanlah ia meresap masuk mengakar dalam tiap jengkal jiwa kita, melahirkan kekokohan batang kepribadian, menumbuhkan kelopak-kelopak harapan, dan meniupkan kuncupnya hingga mekar menjadi bunga. Maka biarkanlah cinta itu mewujud mengejawantah dalam bibir yang basah dengan dzikir, dengan lutut yang gemetar berdiri dalam keheningan malam, dalam tetes peluh dan darah memperjuangkan agama-Nya, dalam tangis kerinduan pada sujud-sujud panjang tak berpenghabisan, pada senyum tulus anak-anak yatim ketika kita mengecup dan membelai rambutnya. Dan biarlah cinta itu kini terbang memanjat langit ketinggian, meninggalkan nafsu binatang tenggelam dalam lumpur kehinaan. Maka biarlah Allah saja yang menyesaki setiap inchi ruangan cinta di hati kita, meninggalkan cinta-cinta palsu terbungkus rapat di tempat sampah penuh karat.


Sebuah nasihat untuk diri sendiri

NB : Buku wajib bagi para pencari makna cinta sejati :

- Jalan Cinta Para Pejuang-Salim A Fillah

- Serial Cinta-Anis Matta

ILMU YANG MENANTI HAKNYA

Suatu saat sepulang shalat berjamaah di Masjid, ada suara salam menyapa saya dari seorang pemuda yang saya ingat ikut berjamaah di Masjid yang sama dengan saya. “Assalamualaikum”, sebuah kata yang saat itu mungkin saya anggap aneh, tidak biasa.

Pertama karena saya merasa tidak mengenal pemuda itu. Kedua, karena pemuda tadi mengucapkan salam sesaat sebelum ia berlalu dengan motornya meninggalkan saya yang berjalan kaki. Biasanya, orang-orang yang dikenal sekalipun, akan berlalu begitu saja dalam keadaan seperti itu. Kalau toh menyapa, mungkin hanya teguran basa-basi biasa, bukan salam. Ketiga, karena saya ingat ini bukan kali pertama dia bersikap seramah dan semenyenangkan itu kepada saya, orang yang tidak dikenalnya. Sebelumnya di masjid yang sama, dia menyalami saya dengan senyum yang (menurut saya) tulus, tak lupa dengan salam bernada riangnya. Jadi, mungkin bisa disimpulkan bahwa apa yang ia lakukan bukan kebetulan, tapi kebiasaan.

Kemudian saya mencoba menebak-nebak. Kenapa orang itu begitu ramah kepada saya yang notabenenya adalah orang yang tidak dikenalnya? Kenapa pula salam mudah sekali meluncur dari wajah cerianya itu? Oh, mungkin saja dia sedang mempraktekkan apa yang diajarkan Nabi Muhammad saw. untuk selalu menebarkan salam dan berwajah ceria dan menyenangkan kepada siapa saja, terutama kepada saudara sesama muslim.

Wah hebat benar dia, bisa benar-benar mempraktekkan ajaran Nabi dengan begitu baiknya, pikir saya. Mungkin malah yang terbaik yang pernah saya jumpai dalam hal menebarkan salam dan bertingkah laku menyenangkan.

Kemudian saya teringat pada diri saya sendiri. Betapa selama ini saya telah banyak mengetahui tentang ajaran Islam yang mengajarkan ini dan itu, saya telah membaca banyak buku yang menasihatkan untuk begini dan begitu, saya banyak mengetahui tentang teori A, B, dan C, tapi amalan yang saya lakukan, perbuatan nyata yang saya kerjakan sebagai tindak lanjut dari teori yang sudah saya pahami, dari ilmu agama yang telah saya ketahui, bisa dibilang sangat sedikit, atau bahkan hampir tidak ada.

Yah, saya baru benar-benar tersadar. Ternyata selama ini saya cuma pandai berteori, cuma getol membaca buku, hanya senang mendengarkan ceramah dan kajian, tanpa diikuti dengan tindakan dan amalan nyata. Parahnya, saya juga sering mengumbar teori itu kesana-kemari, menasihati si A dan si B bahwa kamu seharusnya begini dan begitu, padahal saya sendiri juga belum tentu mengamalkannya. Astaghfirullah…

Teringat saya pada salah satu ayat Al Quran:

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu laksanakan? Sangat besar dosanya di sisi Allah jika kamu mengucapkan sesuatu yang tidak kamu lakukan.” (Ash Shaff : 2-3)

Yah ternyata teori itu sangat berbeda dengan amalan. Orang boleh saja mengetahui teori kebaikan yang banyak sekali. Namun, semua itu takkan pernah berarti apa-apa jika ia tidak pernah mau mengamalkannya. Ia akan tetap berada dalam kedudukan yang sama dengan orang yang tidak mengetahui teori-teori yang ia ketahui. Yah, yang membedakan adalah tindakan nyata, amalan-amalan konkrit, bukan sekadar teori-teori kosong.

Pemuda dengan salam cerianya tadi telah memberi bukti, lebih baik mengerti dan memahami tentang ilmu yang diangggap kecil oleh kebanyakan orang tetapi ditindaklanjuti dengan amalan nyata. Daripada mengilmui sebanyak buku ensiklopedi tapi amalannya tak berisi. Mungkin hampir tidak ada seorang muslim yang tidak mengetahui tentang teladan dan ajaran nabi untuk menebarkan salam, untuk berwajah manis berhias senyum kepada sesama, untuk bertingkah laku menyenangkan kepada saudara kita. Namun, yang benar-benar mengamalkannya sangat tidak sebanding dengan jumlah yang mengetahuinya.

Yah, pemuda dengan salam cerianya telah menyadarkan saya, betapa banyak ilmu yang tidak saya tindaklanjuti dengan amalan nyata, betapa banyak teori menggantung di pikiran dan membusuk tanpa sempat ia disegarkan lagi lewat tindakan konkrit.

Tapi hanya tersadar pun tidak akan berarti apa-apa jika tidak diikuti dengan tindakan nyata yang bernama perbaikan. Dan tidak akan pernah berarti apa-apa jika setelah saya menulis tulisan ini, dan setelah Anda membaca tulisan ini, kemudian kita tetap berkubang dalam teori-teori yang membusuk dimakan waktu karena haknya untuk diubah menjadi amalan nyata kita buang jauh ke negeri antah berantah.

NB : tulisan ini hanya sekadar teori, yang menanti haknya untuk kita metamorfosiskan menjadi kupu-kupu amalan nyata, agar tak hanya menjadi ulat-ulat membusuk yang menjijikkan.

SENANDUNG KEMISKINAN

apa salah kami orang-orang miskin
sehingga kami diperlakukan
bukan seperti layaknya manusia

apa salah kami orang-orang miskin
sehingga kami seolah menjadi sampah
yang najis di mata kalian

apa salah kami orang-orang miskin
sehingga rumah kalian begitu rapat tertutup
saat kami mengetuk kelaparan

apa salah kami orang-orang miskin
sehingga rumah sakit dengan enteng membuang kami
ketika uang kami habis mereka makan

apa salah kami orang-orang miskin
sehingga dokter munafik melihat kami sebagai ATM
yang dapat mereka sedot uangnya kapanpun ia mau

apa salah kami orang-orang miskin
sehingga kesakitan selalu akrab dengan kami
entah sakit fisik atau sakit hati

apa salah kami orang-orang miskin
ketika kami mencuri, kuburan menjadi hukuman pasti
sedangkan koruptor yang berdasi
duduk manis di dalam mercy

apa salah kami orang-orang miskin
ketika kami berusaha berdagang
kalian usir dengan pentungan

apa salah kami orang-orang miskin
sehingga kalian rakus untuk perut yang buncit
sementara kami gendut karena tak pernah makan

apa salah kami orang-orang miskin
sehingga kalian tertawa lepas terbahak
sementara kami menangis mengurut dada

apa salah kami orang-orang miskin
sehingga sekolahpun tak bisa kami jangkau
sementara kalian bersekolah hanya untuk hura-hura
apa salah kami orang-orang miskin
sehingga kalian menjanjikan kami saat kampanye
dan mendurhaka ketika naik tahta

apa salah kami orang-orang miskin
sehingga hidup kami hanya menjadi reality show
sedang yang menonton mengasihani
tetapi lupa ketika mematikan TV

apa salah kami orang-orang miskin
sehingga kalian memberi buldoser untuk rumah kami
berubah mall-mall yang kalian bangun tinggi-tinggi

apa salah kami orang-orang miskin
sehingga kalian membangun kemewahan
di sebelah rumah kami yang roboh termakan zaman

apa salah kami orang-orang miskin
jika akhirnya kami mendoakan
laknat dunia akhirat untuk kalian
orang-orang kaya bermental rendahan

(sebuah refleksi untuk menggugah kepedulian kita, bahwa umat ini membutuhkan kita untuk menjadikan dunia ini lebih baik...heal the world)

BIARKAN CINTA MEMILIH SENDIRI DEFINISINYA

Cinta telah menjadi topik yang sangat akrab untuk kehidupan kemanusiaan kita, terutama masa-masa muda kita. Bahkan hampir semua episode hidup kita, pada setiap aktifitasnya, selalu ada bahasan tentang cinta. Namun yang menyedihkan di sini adalah pemaknaan cinta sebagian besar kita adalah sebuah pemaknaan yang salah. Sekarang cinta sering sekali diejawantahkan lewat perilaku jahiliah yang berlumpur dosa. Cinta dipaksakan memakai definisi yang belepotan hawa nafsu, yang membuatnya melenceng jauh dari makna sejatinya. Cinta dipaksakan menjadi alasan pembenaran terhadap banyak sekali kemaksiatan.

Cinta kemudian ditampilkan dalam aktifitas-aktifitas penuh dosa, semacam pacaran, perayaan valentine, pergaulan bebas, bahkan bunuh diri karena cinta, dan pembunuhan serta kekerasan dengan alasan percintaan. Cinta kemudian diungkapkan lewat kata-kata yang seolah manis dan romantis tetapi sesungguhnya menyebarkan bau busuk kesyirikan dan kebodohan. Begitu mudahnya mengatakan “kamu adalah segalanya bagiku”, “demi cintaku kepadamu tidak ada lagi yang kutakuti”, “aku akan senantiasa memujamu”, “if loving you is wrong, I don’t wanna be right”, dan beribu macam kata-kata gombal lainnya, yang pada akhirnya mengarah pada mempertuhankan cinta.

Keadaan di atas pada dasarnya tumbuh karena pemahaman kita yang salah mengenai makna cinta. Karena itu, adalah suatu hal yang penting bagi kita untuk menata ulang pemahaman akan makna cinta yang sesungguhnya. Biarkanlah para pujangga, penyair, dan sastrawan berebut membahasakan cinta, mencari arti, memberi definisi, dan menggali maknanya, tapi cinta sejati akan senantiasa memilih sendiri definisinya, sesuai dengan kemauan Penciptanya, Sang Maha Cinta. Selalu dan selalu.

Cinta pada hakikatnya, harus senantiasa berjalan pada koridor yang sesuai dengan syariat Islam. Dan cinta pun pada akhirnya harus senantiasa tertuju pada Sang Pencipta Cinta, Allah SWT. Karena cinta yang sejati dan abadi hanyalah cinta kepada dan karena Sang Khalik. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Ibnul Qayim Al Jauziyah bahwasanya cinta akan lenyap dengan lenyapnya sebab. Kaidah ini mengajarkan bahwa sebab adalah nyawa bagi cinta. Jadi, cinta yang abadi memerlukan sebab yang abadi pula. Dan tidak ada satu pun yang abadi selain Allah SWT.

Karena itu, setiap kita menyebut cinta, di situ pula Allah selalu ikut serta di dalamnya. Kepada siapapun atau kepada apapun cinta kita, selalu harus berujung dalam naungan cinta kepada Allah. Kaidah-kaidah yang telah Allah ciptakan selalu senantiasa menjadi panduan dan koridor bagi jalannya cinta. Alasan kita mencintai pun harus karena Allah. Wajib dan tanpa kompromi! Maka bukanlah disebut cinta jika Allah tidak ikut serta di dalam semangat cintanya, apalagi jika aktifitas mencintai itu bertentangan dengan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan Allah lewat kitab dan rasul-Nya.

Anis Matta dalam bukunya Serial Cinta mengatakan: Kalau cinta berawal dan berakhir karena Allah, maka cinta yang lain hanya upaya menunjukkan cinta pada-Nya, pengejawantahan ibadah yang paling hakiki. Selamanya memberi yang bisa kita berikan, selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai.

Yah, cinta kita kepada ayah, ibu, saudara, teman, fakir miskin, anak yatim, orang teraniaya, hanyalah upaya pembuktian untuk menunjukkan cinta hakiki kita kepada Allah. Karena Allah memerintahkan kita mencintai mereka. Dan pembuktian cinta kepada Allah adalah ketaatan kepada syariat-syariat-Nya. Di sinilah esensinya.

Maka sudah sepatutnyalah kita mengoreksi diri kita sendiri, sudah sejalankah pemaknaan cinta kita selama ini dengan hakikat cinta sesungguhnya, sesuaikah dengan ajaran Islam sebagai tatanan yang ditetapkan Allah. Ataukah ternyata apa yang selama ini kita sebut cinta ternyata paradoks dengan sejatinya makna cinta, bertentangan dengan kehendak Allah. Berhati-hatilah dengan cintamu! Karena Rasulullah telah bersabda bahwa seseorang akan bersama dengan yang dicintainya di akhirat nanti. Tentu kita ingin bersama dengan Allah dan Rasul-Nya di Jannah nanti kan? Maka cintailah Allah dan Rasul-Nya melebihi cinta kita kepada siapapun dan apapun. Tidak ada lagi alasan untuk mencari cinta yang lain, kecuali jika ingin merasakan oven raksasa bernama neraka.

Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya!" Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (Q.S At taubah :24).

Maka sekarang adalah saatnya untuk berubah. Jangan lagi kita membiarkan cinta-cinta imitasi mengakrabi kehidupan kita. Jangan sampai di penghujung kesadaran kita, saat kita menyadari betapa kita telah jauh melenceng dalam memaknai cinta, dan betapa buruk akibat yang kita alami karenanya, kita bergumam menyesali diri, layaknya Pat Kai dalam serial Kera Sakti: ”Sejak dulu beginilah cinta, deritanya tiada akhir” Na’udzubillah min dzalik.

Maka marilah sekarang kita sambut kedatangan cinta hakiki itu, cinta kepada dan karena Allah. Lalu biarkanlah ia menyelimutimu mesra dengan pelukan hangat kesejatian cinta. Kemudian biarkanlah ia meresap masuk mengakar dalam tiap jengkal jiwa kita, melahirkan kekokohan batang kepribadian, menumbuhkan kelopak-kelopak harapan, dan meniupkan kuncupnya hingga mekar menjadi bunga. Maka biarkanlah cinta itu mewujud mengejawantah dalam bibir yang basah dengan dzikir, dengan lutut yang gemetar berdiri dalam keheningan malam, dalam tetes peluh dan darah memperjuangkan agama-Nya, dalam tangis kerinduan pada sujud-sujud panjang tak berpenghabisan, pada senyum tulus anak-anak yatim ketika kita mengecup dan membelai rambutnya. Dan biarlah cinta itu kini terbang memanjat langit ketinggian, meninggalkan nafsu binatang tenggelam dalam lumpur kehinaan. Maka biarlah Allah saja yang menyesaki setiap inchi ruangan cinta di hati kita, meninggalkan cinta-cinta palsu terbungkus rapat di tempat sampah penuh karat.

--PRIY--

Sebuah nasihat untuk diri sendiri

NB : Buku wajib bagi para pencari makna cinta sejati :

- Jalan Cinta Para Pejuang-Salim A Fillah

- Serial Cinta-Anis Matta