Selepas Maghrib
di sebuah Masjid kecil di salah satu desa di pelosok Pacitan, saya menemukan seorang
kakek dengan tubuhnya yang kecil, kurus, dan bungkuk sedang membaca Al Quran.
Penglihatannya yang semakin kabur dimakan usia membuatnya harus semakin membungkuk
sangat dekat dengan tulisan dalam kertas mushaf Al Quran agar dapat melihat
dengan lebih jelas. Beliau membaca halaman yang sudah berwarna kuning itu dengan
suara keras namun terbata-bata.
Suaranya yang
parau dan bergetar dengan pelafalan huruf yang masih kurang benar memang sama
sekali jauh dari merdu dan enak didengar. Tapi entah mengapa saya terpesona.
Selama setidaknya satu menit saya terbengong berdiri di belakangnya, menatap
tubuh rentanya dengan pandangan yang entah harus saya definisikan bagaimana.
Di sebelah kakek
itu terdapat sebuah senter kecil yang ia pergunakan sebagai penerang jalan dari
rumahnya menuju Masjid. Di daerah itu, ketika malam memang sangat sepi.
Penerangan pun sangat minim sehingga senter menjadi alat wajib jika ingin
berjalan malam hari. Ditambah kontur tanah yang terjal berbatu dan udara dingin
yang cukup menggigit sebenarnya lebih dari cukup untuk kakek serenta itu memutuskan
mengalah pada rasa malas dan mengurungkan diri pergi ke masjid. Tapi tidak,
kakek ini tetap berangkat ke Masjid yang sepi itu dan selepas Maghrib ia tetap
tinggal untuk tadarus Al Quran sambil menunggu Isya tiba. Masya Allah…
Di banyak
kesempatan lain, saya pun dibuat terpesona oleh berbagai macam orang yang
mungkin dianggap remeh oleh kebanyakan kita. Ada seorang bapak tunanetra yang
rutin setiap pagi mengepel teras Mushala Puskesmas tempat saya bekerja. Dengan
keterbatasan yang Ia miliki, Ia masih tergerak untuk berbuat sesuatu,
membersihkan Rumah Tuhan. Hal yang sangat luar biasa. Dan Ia tampak sangat
menikmati pekerjaannya itu, membuat saya selalu tersenyum ketika melihatnya.
Pernah pula
saya menyaksikan seorang tunanetra yang berjalan kaki dengan bantuan tongkatnya
menyusuri padatnya Jalan Kaliurang Yogyakarta sambil memanggul tumpukan keset
yang Ia jual dengan berkeliling. Merinding ketika saya melihatnya dari atas
motor.
Di dekat obyek
wisata Candi Cetho di Karanganyar, sempat saya jumpai seorang nenek yang
memanggul tumpukan besar rumput untuk ternaknya sampai terbungkuk-bungkuk karena
saking beratnya. Jalan mendaki yang Ia lalui membuat pekerjaan itu semakin
melelahkan baginya.
Ada pula
seorang kakek jompo yang berjualan mainan kincir angin dari karton khas
prakarya anak SD di tempat wisata Benteng Van Der Wijk, Gombong. Kincir angin
yang warnanya memudar dan berdebu itu jelas tak mungkin menarik perhatian
anak-anak zaman sekarang. Kemungkinan jualannya laku sangat kecil. Mungkin
beliau tahu itu, tapi toh beliau tetap berjualan, tetap berikhtiar. Ia hanya
tahu kewajibannya adalah bekerja, dan soal rezeki biar Allah yang memberikannya
dari jalan yang tak disangka-sangka.
Salah satunya
lewat ibu saya yang karena kasihan membeli satu kincir angin dengan harga
berlipat-lipat dari yang diminta kakek penjual itu. Tapi itu sungguh tak
sebanding dengan pelajaran hidup yang beliau ajarkan kepada saya sekeluarga
waktu itu, membuat saya memainkan kincir angin itu dengan mata berkaca-kaca.
Masih banyak
lagi sebenarnya sosok memesona lainnya yang sempat saya temui. Namun yang saya
sebut di atas setidaknya cukup mewakili. Dan saya selalu terpukau melihat orang-orang
seperti mereka. Saya akan berlama-lama menatap mereka sambil menikmati
desir-desir halus yang muncul di hati kala memandangnya. Atau jika memungkinkan
saya akan berusaha berbincang dengan mereka. Memberi sesuatu jika saya mampu atau
setidaknya dalam hati merapal doa-doa untuk mereka sebanyak mungkin.
Ada kedamaian
yang menyusup di dada. Berbagai jenis perasaan turut memenuhi hati saya kala
memandang mereka. Trenyuh, haru, sedih, kasihan, malu dengan diri sendiri,
bersyukur atas nikmat diri, dan sebagainya. Tapi entah mengapa yang dominan di
pikiran saya adalah rasa cemburu. Yah, CEMBURU. Dalam pengertian yang positif
tentunya.
Entah mengapa dalam
pandangan saya mereka begitu dekat dengan Tuhannya, dekat dengan surga. Mereka
memang bukan siapa-siapa. Mereka juga tidak melakukan sesuatu yang hebat dan
besar. Tapi justru karena sederhana itulah mereka memukau. Dan justru karena
mereka bukan siapa-siapa itulah yang membuat mereka memesona.
Mereka hanya bekerja
sekuat yang mereka bisa, memenuhi kewajiban dari Tuhan untuk mencari nafkah bagi
keluarga di rumah. Mereka hanya berusaha melawan keterbatasan yang mereka
miliki untuk beribadah kepada Tuhan. Walau payah, meski susah, mereka tak
pernah kalah oleh lelah. Mereka berangkat dengan keyakinan penuh pada Tuhannya
dan pulang kembali ke rumah untuk mensyukuri seberapapun dan apapun yang mereka
dapat hari itu. Sesederhana itu. Begitu jujur dan tulus, tanpa ambisi dan
dusta. Hidup mereka adalah bentuk pengabdian utuh kepada Tuhannya.
Cemburu rasanya
melihat mereka. Begitu damai, begitu tenang. Sementara saya masih sering
dipusingkan dengan urusan duniawi yang melenakan dari mengingat Tuhan. Mereka
mungkin telah jauh mendahului saya masuk surga, sementara saya masih tertatih
untuk menghindari neraka.
Saya mungkin telah
mengenyam pendidikan tinggi di kampus negeri bergengsi, memiliki profesi dan gelar
mentereng, memiliki kedudukan yang baik di masyarakat dan diberi kecukupan materi.
Namun bisa jadi di sisi Tuhan saya tak lebih baik dari mereka yang bahkan SD
saja mungkin tidak tamat, yang bahkan untuk makan tiga kali sehari saja mungkin
masih susah.
Melihat mereka,
membuat saya tertampar dan terpaksa kembali berkaca melihat ke dalam diri
sendiri. Sudahkah saya menjadikan kerja sebagai bagian dari ibadah saya kepada
Tuhan? Apakah pekerjaan saya memiliki trayek yang sama dengan jalur menuju
surga? Sudah luruskah niat dan orientasi saya dalam hidup ini, ataukah masih
pekat ia dengan ambisi duniawi? Masih sadarkah bahwa dunia hanya sementara dan
ada pertanggungjawaban di akhirat sana? Astaghfirullah…
Memandang
mereka membuat saya memahami bahwa hidup sebenarnya sangat sederhana.
Sesederhana embun pagi yang disambut dengan nafas bakti pada Ilahi. Sesederhana
senja yang dijemput dengan syukur tanpa jeda kepada-Nya. Sesederhana malam yang
ditutup dengan senyuman kemenangan menuju Tuhan.
Ya, sesederhana
itu…
Pacitan,
30 Juni 2012






